"Garuda di dadaku, Garuda kebangganku. Ku yakin hari ini pasti menaaaaang!!!"
Begitu lantangnya para suporter menyanyikan lagu ini sembari menyaksikan 11 putra terbaik bangsa berusaha melesakkan gol ke gawang lawannya. Sebuah lagu wajib di SUGBK jika melihat Tim Nasional kita bertanding. Stadion yang tak pernah sepi penonton jika Tim Nasional sedang berjuang demi nama bangsa.
Sejak SD(sekolah dasar) gw udah di ajak bokap buat nonton Timnas maen di SUGBK. Dari jamanya Kurniawan Dwi Juliato masih jaya-jayanya sampe sekarang jamanya Bambang 'bepe' Pamungkas udah uzur. Wah, kesan manis dan pahit gw punya di SUGBK. Mungkin gw adalah salah satu orang yang fanatik sama sepak bola dalam negeri. Setiap hari gw selalu update perkembangannya via internet. Karena sekarang ini gw ga bisa nonotn langsung karena posisi gw sekarang jauh dari peradaban..hehehhee
Lanjut, ngomongin Timnas kita emang ga ada abisnya. Mulai dari PSSInya sendiri sebagai induk organisasi sepak bola tanah air, pemain-pemain yang masuk didalamnya, hingga suporter yang ga abis-abis ceritanya.
Menurut gw, dengan bermaterikan pemain-pemain yang kita punya. Sebenarnya bukan hal yang mustahil jika kita dapat 'berbicara' di sebuah kompetisi katakanlah sekaliber Asia. Bukan hanya sebagai tim yang 'numpang lewat'. Pada perhelatan Piala Asia 2007, cakar Garuda dapat mecabik-cabik Bahrain, negara yang di cap oleh AFC sebagai negara yang sepak bolanya berkembang dengan pesat saat itu. Hal-hal yang diluar akal sehat kita memang. Disaat publik sepak bola tanah air sedikit pesimistis dengan kemampuan Tim nasionalnya, disaat yang bersamaan pula mereka mampu membalikkan persepsi itu.
PSSI sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia mecoba memberi solusi jalan lama yaitu dengan mengganti kursi kepelatiha kepada Alfred Riedl. Pelatih yang satu ini adalah pelatih yang mempermalukan Indonesia pada perhelatan Sea Games, dengan mempermalukan Garuda muda 2-0 atas Laos. Laos yang sebenarnya di atas kertas dapat diatasi dengan mudah, malah menjadikan Indoensia bulan-bulanan meraka. Sekarang, sang arsitek mecoba meracik Indonesia. Gonta-ganti kursi kepelatihan berjalan sejajar dengan naik-turunya prestasi timnas. Terlalu seringnya berganti pelatih menurut saya, hanya akan membuat para pemain kebingungan dan selalu harus beradaptasi lagi dengan gaya berlatih si pelatih baru. Mungkin alangkah bijaknya jika PSSI dapat percaya lebih kepada satu pelatih dan menanti buah dari kerja kerasnya. Karena menurut saya, tidak ada timnas yang instan. semua itu butuh proses.
Tak dapat dipungkiri, para pendukung sepak bola Indonesia sudah haus akan gelar, mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang dengan lantangnya dan melihat bendera merah-putih berkibar di puncak tertinggi, sembari melihat para putra-putra pilihan bangsa mengangkat piala setinggi-tingginya. Akankah ini menjadi kenyataan? atau hanya khayalan sang penulis?
No comments:
Post a Comment